Sanad Keilmuan MaRuyung - Dalam cerita dan legendha

Sanad Keilmuan MaRuyung - sampai ke Muh Cipto Waluyo


Keilmuan memang sangatlah diperlukan untuk mengetahui dari mana kita belajar dan siapa yang mempertanggung jawabkan ilmu yang kita dapatkan, berikut sanad Keilmuan MaRuyung yang berdiri dan berpusat di Komplek Watumas, Karangsuci, Kelurahan Purwanegara Kec Purwokerto Utara Kab Banyumas

1. Syaikh Jumadil Kubro

    Syekh Jumadil Kubro, Penyebar Islam di Bumi Majapahit
    Makam Troloyo di Desa Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto berkaitan erat dengan Syekh Jamaluddin Al Husain Al Akbar alias Sayyid Hussein Jumadil Kubro atau yang biasa disebut Syekh Jumadil Kubro Sayyid Jumadil Kubro. 
    Setidaknya terdapat 19 nama yang dimakamkan di Makam Troloyo. Di antaranya Syekh Al Chusen, Imamudin Sofari, Tumenggung Satim Singomoyo, Patas Angin, Nyai Roro Kepyur, Syekh Jumadil Kubro, Sunan Ngudung, Raden Kumdowo, Ki Ageng Surgi, Syekh Jaelani, Syekh Qohar, serta Ratu Ayu Kenconowungu.

    Komplek Makam Troloyo mempunyai luas sekitar 3,5 acre atau 152 ribu kaki persegi. Masing-masing kompleks dikelilingi 5leh tembok khas Majapahit dan memiliki empat plataran atau empat komplek makam yang cukup luas.Tembok yang terbuat dari batu bata itu berdiri setinggi 1,8 meter. Antara komplek satu dengan komplek yang lain dihubungkan dengan jalan setapak yang melambangkan keterhubungan antar komplek.
    Komplek Makan Troloyo ada tokoh yang sangat terkenal, yakni Sayyid Jumadil Kubro. ‘Beliau ulama dari Samarkhan yakni negeri perbatasan antara Azarbaijan dan Rusia. Beliau datang ke sini tahun 1399 didampingi anaknya,” 
    Sebelum ke Kerajaan Majapahit, Syekh Jumadil Kubro mampir ke Campa. Salah satu negara yang ada di Kamboja untuk bertemu dengan salah satu anaknya yang ada di sana dan kemudian ke tanah Jawa didampingi anaknya yang bernama Maulana Ibrahim Asmorokondi.
    “Beliau datang ke sini untuk dagang, karena selain ulama beliau juga dikenal sebagai saudagar. Dagangnya bisa diterima di Kerajaan Majapahit tapi untuk siar agama Islam masih sulit. Akhirnya beliau bertemu dengan salah satu Tumenggung Majapahit, yakni Tumenggung Satin,” katanya.
    Tumenggung Satin yang memberikan jalan dan memperkenalkan dengan tokoh-tokoh bangsawan Majapahit. Karena mengubah kepercayaan orang tidak mudah sehingga Syekh Jumadil Kubro mengalami kendala dan kesulitan. Karena saat itu, Kerajaan Kerajaan Majapahit mayoritas penganut agama Hindu yang kuat.
    “Syekh Jumadil Kubro kembali, tapi bukan ke negaranya, namun ke negeri Syekh Sayid Muhammad. Syekh Sayid Muhammad kemudian mengutus dan mengumpulkan beberapa tokoh ada 9 yang masing-masing mempunyai keahlian sendiri-sendiri. Sebanyak 9 orang, bersama Syekh Jumadil Kubro ke tanah Jawa,” inilah yang disebut dengan Majelis WALI SANGA periode pertama.
    Namun mereka tidak langsung ke Majapahit. Tapi menjalankan tugas pertama karena Kerajaan Majapahit banyak pagebluk saat itu. Masyarakat juga tidak percaya dengan adanya agama baru. Sehingga Syekh Jumadil bersama sembilan orang tersebut membuat tumbal yang ditanam di Gunung Tidar. untuk menetralisir dan sikronisasi agar aman.
    “Untuk menyiarkan agama Islam di Kerajaan Majapahit sedikit terbuka, meskipun belum secara terang-terangan. Untuk mengarahkan kepercayaan tidak secara langsung tapi memperkenalkan pada Tuhannya dulu. Saat itu, Kerajaan Brawijaya terakhir dan Majapahit mau hancur,” sehingga dilakukan perlahan tapi pasti.
    Sebanyak sembilan orang yang menemani Syekh Jumadil Kubro ke tanah Jawa masih mempunyai hubungan keluarga, mulai sari cucu hingga cicit. Seperti Sunan Ampel, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Kalijaga dan Sunan Gunung Jati. Semua masih keturunan Syekh Jumadil Kubro.
    “Untuk Sunan Kalijogo bukan keturunan Syekh Jumadil Kubro, namun beliau adalah menantu dari Sunan Ampel. Sehingga 9 orang wali atau Wali Songo merupakan satu kesatuan sehingga Troloyo disebut sebagai punjer Wali Songo,” 

2. Syaikh Subakir

Gunung Tidar adalah gunung yang berada di tengah-tengah Kota MagelangJawa Tengah. Gunung ini tidak dapat dipisahkan dengan pendidikan militer karena banyaknya kegiatan Akademi Militer (Akmil) yang dilakukan di gunung tersebut.

Gunung yang dalam legenda dikenal sebagai "Pakunya Tanah Jawa" ini terletak di tengah Kota Magelang. Berada pada ketinggian 503 meter dari permukaan laut. Gunung Tidar memiliki sejarah dalam perjuangan bangsa, di Lembah Tidar itulah Akademi Militer sebagai kawah candradimuka yang mencetak perwira pejuang Sapta Marga berdiri pada 11 November 1957.

Asal Nama Tidar

Asal muasal nama Tidar sendiri banyak versi. "Tidar" memiliki makna mukti dan kadadar. "Mukti" memiliki makna bahagia, berpangkat, dan sukses dalam hidup; sedangkan "Kadadar" berarti dididik, ditempa, dan diuji.

Situs Makam di Gunung Tidar

Hanya butuh waktu kurang dari 30 menit untuk sampai di puncak Tidar. Secara umum, Gunung Tidar memang masih cukup alami. Banyak tanaman pinus dan tanaman buah-buahan tahunan seperti salak hasil penghijauan era tahun 1960an menjadikan Gunung Tidar sangat rimbun.

Beberapa saat menapaki jalanan setapak pendakian kita akan bertemu dengan Makam Syaikh Subakir. Konon Syaikh Subakir adalah penakluk Gunung Tidar (meski tidak ada bukti meyakinkan akan cerita legenda ini) dengan mengalahkan para jin penunggu Gunung Tidar tersebut. Menurut legenda (hikayat) Gunung Tidar, Syaikh Subakir berasal dari negeri Turki yang datang ke Gunung Tidar bersama kawannya yang bernama Syaikh Jangkung untuk menyebarkan agama islam di indonesia.

Makam Syekh Subakir di Gunung Tidar

Tidak jauh dari Makam Syaikh Subakir, kita akan berjumpa dengan sebuah makam yang panjangnya mencapai 7 meter. Itulah Makam Kyai Sepanjang. Kyai Sepanjang bukanlah sesosok alim ulama, tetapi adalah nama tombak yang dibawa dan dipergunakan oleh Syaikh Subakir mengalahkan jin penunggu Gunung Tidar kala itu.



Situs makam terakhir yang kita jumpai sewaktu mendaki Gunung Tidar adalah Makam Kyai Semar. Namun menurut beberapa versi ini bukanlah makam kyai Semar yang ada dalam pewayangan. Namun, Kyai Semar, jin penunggu Gunung Tidar waktu itu. Meski demikian banyak yang percaya ini memang makam Kyai Semar yang ada dalam pewayangan itu. Dan mana yang benar, adalah tinggal kita mau mempercayai yang mana.

Paku Tanah Jawa

Di puncak Gunung Tidar terdapat tanah lapang yang ditengahnya terdapat sebuah Tugu dengan simbol huruf Sa (dibaca seperti pada kata Solok) dalam tulisan Jawa pada tiga sisinya. Menurut penuturan juru kunci, itu bermakna Sapa Salah Seleh (Siapa Salah Ketahuan Salahnya). Tugu inilah yang dipercaya sebagian orang sebagai Pakunya Tanah Jawa, yang membuat tanah Jawa tetap tenang dan aman.



3. Sunan Ampel

Ali Rahmatullah atau yang dikenal dengan Sunan Ampel adalah seorang wali yang menyebarkan ajaran Islam di Tanah Jawa. Ia lahir pada tahun 1401 di daerah Champa.

Sunan Ampel adalah Putra dari Syekh Ibrahim As-Samarqandy dengan Dewi Candrawulan. Sunan Ampel juga merupakan keponakan Dyah Dwarawati, istri Bhre Kertabhumi raja Majapahit.

Riwayat

Saat ibu kota Champa jatuh ke Vietnam pada 1471, Sunan Ampel melakukan perjalanan ke Nusantara. Dia singgah selama dua bulan di Palembang dan berhasil mengislamkan adipati Palembang, Arya Damar. Rombongannya kemudian melanjutkan perjalanan dengan perahu, singgah di pelabuhan Jepara, hingga akhirnya sampai ke Tuban. Setelah Sunan Ampel dianggap cukup berilmu, ayahnya menugaskan ia ke Jawa untuk menyiarkan Islam.[6]

Sayyid Ali Rahmatullah datang ke Jawa bersama ayahnya bernama Syekh Ibrahim Asmaraqandi untuk menyebarkan agama Islam. Sekaligus silaturahmi ke bibinya, Dewi Dwarawati yang menjadi istri Prabu Kertabhumi.[6]

Kapal Raden Santri beserta rombongan tiba di sebelah timur Bandar Tuban, yang disebut Gisik (sekarang bernama Gesikharjo). Pendaratan di Gisik dilakukan sebagai salah satu bentuk kehati-hatian, dikarenakan Tuban pada saat itu menjadi Pelabuhan Internasional Majapahit.[7] Dengan cara mendarat di tempat yang tidak terlalu ramai ini, Syekh Ibrahim As-Samarqandi memulai dakwahnya.

Tidak lama setelah sampai di Tuban ayahanda Raden Santri menderita sakit kemudian meninggal dunia dan dimakamkan di daerah pesisir GesikharjoPalangTuban. Sepeninggal ayahnya, Raden Rahmat melanjutkan perjalanan dakwah keliling Nusa Tenggara. Selanjutnya, ia bersama Raden Santri dan Raden Burereh (Abu Hurairah)[butuh rujukan] berangkat ke Majapahit untuk menemui bibinya, Dwarawati, salah satu istri raja Majapahit.[6] Dari sinilah diduga Raden Rahmat mendapatkan restu untuk mendirikan pesantren di Ampel.

Selain mendirikan pesantren, Sunan Ampel juga dipercaya untuk menjabat sebagai Adipati di Surabaya untuk menggantikan Arya Lembu Suro, hal ini tertuang dalam catatan Sedjarah Regent Soerabaja yang berbunyi sebagai berikut :

"punika panjenengan ing kabupaten surapringga, kangjeng sinuhun ngampeldenta, nami pangeran rahmat, juluk seh mahdum, seda kasareaken ing ngampel" [8][9][10] yang kemudian setelah dia wafat digantikan oleh Sunan Madjaagung/Sunan Mojoagung yang nanti salah satu keturunannya yang bernama Sayyid Maulana Umar Mas'ud menjadi pendiri Kerajaan Bawean di Gresik[11]

Selama setahun di Majapahit, dia hendak balik ke Champa tapi negeri tesebut sudah hancur dan dikuasai raja Pelbegu dari kerajaan Koci. Berkat saran raja Kertabhumi, Raden Santri disuruh menetap di Gresik.[12][13]

Ajaran

Moh limoMohlimo atau Molimo (Moh: tidak mau, limo: lima) adalah falsafah dakwah Sunan Ampel untuk memperbaiki kerusakan akhlak di tengah masyarakat pada zaman itu yaitu:

    1. Moh Mabok: tidak mau minum minuman keras, khamr dan sejenisnya.
    2. Moh Main: tidak mau main judi, togel, taruhan dan sejenisnya.
    3. Moh Madon: tidak mau berbuat zina, homoseks, lesbian dan sejenisnya.
    4. Moh Madat: tidak mau memakai narkoba dan sejenisnya.
    5. Moh Maling: tidak mau mencuri, korupsi, merampok dan sejenisnya.

Ajaran ini muncul saat Kerajaan Majapahit pada abad ke-15 yang didera kekacauan akibat perang saudara, kemerosotan moral, dan maraknya perjudian, perampoka, dan pemerkosaan. Situasi inilah yang mendorong Raja Majapahit, Dyah Kertawijaya, mengundang Sunan Ampel untuk membantu memperbaiki perilaku masyarakat.[6]

Pemakaman

Makam Sunan Ampel di Kota Surabaya.

Pada tahun 1479, Sunan Ampel mendirikan Mesjid Agung Demak. Dan yang menjadi penerus untuk melanjutkan perjuangan dakwah dia di Kota Demak adalah Raden Zainal Abidin yang dikenal dengan Sunan Demak, dia merupakan putra dia dari istri dewi Karimah.

Putra Raden Zainal Abidin yang terakhir, tercatat menjadi Imam Masjid Agung tersebut yang bernama Raden Zakaria (Pangeran Sotopuro).

Sunan Ampel meninggal pada tahun 1481.[14] Ia dimakamkan di Kota SurabayaJawa Timur.[15] Lokasi makamnya berada di Masjid Ampel




4. Sunan Giri

Sunan Giri atau Sayyid R. 'Ainul Yaqin lahir di Blambangan tahun 1442 M dan meninggal tahun 1506 dimakamkan di desa Giri, Kebomas Gresik.[1] Adalah anggota Walisongo dan pendiri kerajaan Giri Kedaton yang berkedudukan di daerah Kabupaten Gresik. Sunan Giri membangun Giri Kedaton sebagai pusat penyebaran agama Islam di Pulau Jawa yang pengaruhnya sampai ke MaduraLombokKalimantanSulawesi dan Maluku.[2]

Nama Giri sendiri yang digunakan oleh Sunan Giri dalam menamakan tempat tinggalnya di Gresik itu diambil dari nama tempat ibukota Kerajaan Blambangan saat itu. Kota Giri saat ini menjadi sebuah kecamatan di BanyuwangiJawa Timur.[3]

Keluarga

Sunan Giri memiliki beberapa nama lain yakni Raden PakuPrabu SatmataSang Hyang Giri Nata, Sultan Abdul FaqihRaden 'Ainul Yaqin dan Jaka Samudra.

Sunan Giri merupakan buah pernikahan dari Maulana Ishaq, seorang mubaligh Islam dari Malaka, dengan Dewi Sekardadu atau Dewi Sabodi, putri Prabu Menak Sembuyu penguasa wilayah Blambangan pada masa-masa akhir Majapahit.[4]

Di saat kelahirannya bayi Sunan Giri dituduh sebagai biang keladi masalah atas wabah yang melanda Blambangan oleh Patih Bajul Sengata. Patih Bajul Sengata menyarankan Prabu Menak Sembuyu untuk membunuh putra dari Dewi Sekardadu. Namun upaya itu tidak terjadi, sebab Sunan Giri dilarung ke laut Blambangan oleh ibunya, sebagai aksi penyelamatan dari rencana pembunuhan dari Senopati Blambangan.

Saat ditengah laut antara Blambangan dan Gili Manuk, bayi anak Dewi Sekardadu itu diselamatkan oleh awak kapal bernama Abu Hurairoh, anak buah dari Nyi Ageng Pinatih dari Gresik, janda kaya raya bekas istrinya Koja Mahdum Syahbandar. Peristiwa itu ditulis oleh Thomas Stamford Raffles dalam bukunya History of Java.[5]

Ini pula dikuatkan oleh catatan H.J. De Graaf dan Th. Pigeaud dalam buku Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa Peralihan dari Majapahit ke Mataram. Keduanya memastikan bahwa bayi anak Dewi Sekardadu yang diberi nama Jaka Samudra itu diselamatkan oleh Nyi Ageng Pinatih, setelah itu dari Jaka samudra dirubah namanya Raden Paku (sesuai pemberian nama dari ayahnya) lalu diganti dengan Maulana Ainul Yaqin oleh gurunya yaitu Syekh Sayyid Ali Rahmatullah atau Sunan Ampel.

Asal Usul

Ada Bukti Otentik tentang asal usul dari Sunan Giri baik nama ayah maupun kisah kisah yang berbeda-beda. Salah satu nya bisa dilihat pada manuskrip filologi yaitu Serat Walisana, dengan tulisan langgam Pucung, Pupuh V bait 20-25, menjelaskan asal usul Sunan Giri.

Berikut cuplikan bait di serat walisana ;

“Nateng Blambangan/ prabu Sadmudha wewamgi/rimangkana kataman sungkawa dahat/marma tyas duh margi saking Puterini pun/Nandang gerah barah/madal sanggayaning usadi/apanengeran sang Retno Sabodi Rara/Suwarna yu Samana sang nata ngerungu/lamun ing wuhara/wonten Janma nembe prapti/adedukuh mencil ahlul tapabrata /pan wus kabul mumpuni salwiring kawruh/dadya tinimbalan/prapta kinen ngusadani/katarima waluya grahe sang Retna/suka sukur ya ya wau sangha prabu/nenggih puteranira/pinaringaken tumuli/lajeng panggih lan Sayyid Yaqub Samana/atut runtut tan ana sangsayanipun/pinarengan nama maruwanira Ki/apanengeran pangeran Raden Wali Lanang/”.[6]

Catatan dalam Serat Walisana tersebut menggunakan bahasa semiotika, menunjukkan lambang yang punya makna, dan di setiap peristiwa dibahasakan dengan sengkala yang juga mengandung arti waktu peristiwa tersebut.

Dalam Babad Ing Giri kedhaton disebutkan :

"punika pretelan sejarahipun kanjeng nabi muhammad sallallahualaihi wasalam ,manka maulana ishaq apeputra kanjeng susuhunan prabu sadmata ingkang ndalem giri kedhaton ,manka susuhunan prabu satmata menggah garwa padminipun anenggih putrane pangeran ing bungkul negari surapringga (surabaya) ,manka susuhunan prabu satmata apeputra Sunan Dalem ,nuli apeputra mas Kartosuro" ( Babad giri Kedhaton : 113 - 116)

Berbeda dengan di Babad Tanah Jawi, dalam catatan Prof. Agus Sunyoto di bukunya Atlas Wali Songo ( hlm.172)[7] menyebut nama ayah Sunan Giri adalah Maulana Ishaq, sedangkan di Serat Walisana disebutkan bahwa ayahnya Sunan Giri adalah Sayyid Yaqub atau Pangeran Raden Wali Lanang. Ibunya Sunan Giri yang ditulis dalam Serat Walisana adalah Retno Sabodi, sementara yang tertulis di Babad Tanah Jawi adalah Dewi Sekardadu.

Perbedaan sebutan ini tidak berarti kerancuan, tetapi hanya beda panggilan saja, karena tetap merujuk pada satu orang perempuan ibu dari Sunan Giri yang valid sebagai anak dari Prabu Menak Sembuyu, seorang cucu Prabu Hayam Wuruk dari jalur selir. Ini tidak ada bantahan, bahwa betul Sunan Giri adalah anak dari pertemuan seorang keturunan Rosulullah Saw dengan anak keturunan Raja Majapahit.[8]

Sementara itu dari data silsilah yang tersimpan di pesantren-pesantren Jawa Timur menyebutkan jika Sunan Giri adalah keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Silsilah ini bisa ditelusuri dari nasab para penguasa Kesultanan Samudera Pasai yang ternyata bersambung dengan penguasa Dinasti Ayubbiah. Dinasti Ayubbiyah sendiri mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Karena dari jalur Syekh Abdul Qadir al-Jailani maka Sunan Giri termasuk dalam bagian keluarga Al-Qadiri al Hasani.

Pendidikan dan Pengembangan Keilmuan

Bayi yang tersangkut di kapal itu diambil oleh awak kapal dan diserahkan kepada Nyai Pinatih yang kemudian memungutnya menjadi anak angkat. Karena ditemukan di laut, maka bayi itu dinamai Jaka Samudra.

Menurut Hoesein Djajadiningrat dalam Sadjarah Banten (1983), Nyai Pinatih adalah janda kaya raya di Gresik, bersuami Koja Mahdum Syahbandar, seorang asing di Majapahit. Nama Pinatih sendiri sejatinya berkaitan dengan nama keluarga dari Ksatria Manggis di Bali (Eiseman, 1988), yang merupakan keturunan penguasa Lumajang, Menak Koncar, salah seorang keluarga Maharaja Majapahit yang awal sekali memeluk Islam.[9]

Dakwah dan Kesenian

Setelah tiga tahun berguru kepada ayahnya, Raden Paku atau lebih dikenal dengan Raden 'Ainul Yaqin kembali ke Giri. Dalam Babad Tanah Jawi, dikisahkan bahwa Raden Paku dan Raden Mahdum Ibrahim pernah bermaksud pergi ke Mekkah untuk menuntut ilmu sekaligus berhaji. Namun, keduanya hanya sampai di Malaka dan bertemu dengan Maulana Ishak, ayah kandung Raden Paku. Keduanya diberi pelajaran tentang berbagai macam ilmu keislaman, termasuk ilmu tasawuf.

Di dalam sumber yang dicatat pada silsilah Bupati Gresik pertama bernama Kyai Tumenggung Pusponegoro, terdapat silsilah tarekat Syathariyah yang menyebut nama Syaikh Maulana Ishak dan Raden Paku Sunan Giri sebagai guru Tarekat Syathariyah, yang menunjuk bahwa aliran tasawuf yang diajarkan Maulana Ishak dan Raden Paku adalah Tarekat Syathariyah.udian mendirikan sebuah pesantren giri di sebuah perbukitan di desa Sidomukti, Kebomas. Dalam bahasa Jawagiri berarti gunung. Sejak itulah, ia dikenal masyarakat dengan sebutan Sunan Giri.

Pesantren Giri kemudian menjadi terkenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam di Jawa, bahkan pengaruhnya sampai ke MaduraLombokKalimantanSulawesiSumatera (terutama bagian selatan) dan Maluku. Pengaruh Giri terus berkembang sampai menjadi kerajaan kecil yang disebut Giri Kedaton, yang menguasai Gresik dan sekitarnya selama beberapa generasi sampai akhirnya ditumbangkan oleh Sultan Agung.

Terdapat beberapa karya seni tradisional Jawa yang sering dianggap berhubungkan dengan Sunan Giri, diantaranya adalah permainan-permainan anak seperti Jelungan, dan Cublak Suweng; serta beberapa gending (lagu instrumental Jawa) seperti Asmaradana dan Pucung.


5. Sunan Bonang


Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465 M di LasemMajapahit dengan nama As-Sayyid Raden Maulana Makhdum Ibrahim. Ia adalah putra Sunan Ampel dengan Dewi Candrawati.

Ia juga dikenal sebagai penggubah suluk Wijil dan tembang Tombo Ati, yang masih sering dinyanyikan orang.

Pendidikan

Dalam hal pendidikan, Sunan Bonang belajar pengetahuan dan ilmu agama dari ayahandanya sendiri, yaitu Sunan Ampel. Ia belajar bersama santri-santri Sunan Ampel yang lain seperti Sunan Giri, Raden Patah dan Raden Kusen.

Selain dari Sunan Ampel, Sunan Bonang juga menuntut ilmu kepada Syaikh Maulana Ishak, yaitu sewaktu bersama-sama Raden Paku Sunan Giri ke Malaka dalam perjalanan haji ke tanah suci.

Sunan Bonang dikenal sebagai seorang penyebar Islam yang menguasai ilmu fikih, ushuluddin, tasawuf, seni, sastra, arsitektur, dan ilmu silat dengan kesaktian dan kedigdayaan menakjubkan.

Bahkan, masyarakat mengenal Sunan Bonang sebagai seseorang yang sangat pandai mencari sumber air di tempat-tempat yang sulit air.

Babad Daha-Kediri menggambarkan bagaimana Sunan Bonang dengan pengetahuannya yang luar biasa bisa mengubah aliran Sungai Brantas, sehingga menjadikan daerah yang enggan menerima dakwah Islam di sepanjang aliran sungai menjadi kekurangan air, bahkan sebagian yang lain mengalami banjir.

Sepanjang perdebatan dengan tokoh Buto Locaya yang selalu mengecam tindakan dakwah Sunan Bonang, terlihat sekali bahwa tokoh Buto Locaya itu tidak kuasa menghadapi kesaktian yang dimiliki Sunan Bonang.

Demikian juga dengan tokoh Nyai Pluncing, yang kiranya seorang bhairawi penerus ajaran ilmu hitam Calon Arang, yang dapat dikalahkan oleh Sunan Bonang.[1]

Karya Sastra

Sunan Bonang banyak mengubah sastra berbentuk suluk atau tembang tamsil. Antara lain Suluk Wijil yang dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa'id Al Khayr. Sunan Bonang juga mengubah tembang Tamba Ati (dari bahasa Jawa, berarti penyembuh jiwa) yang kini masih sering dinyanyikan orang.

Ada pula sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa yang dahulu diperkirakan merupakan karya Sunan Bonang dan oleh ilmuwan Belanda seperti Schrieke disebut Het Boek van Bonang atau buku (Sunan) Bonang. Tetapi oleh G.W.J. Drewes, seorang pakar Belanda lainnya, dianggap bukan karya Sunan Bonang, melainkan dianggapkan sebagai karyanya.

Dia juga menulis sebuah kitab yang berisikan tentang Ilmu Tasawwuf berjudul Tanbihul Ghofilin. Kitab setebal 234 halaman ini sudah sangat populer dikalangan para santri.

Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang "Tombo Ati" adalah salah satu karya Sunan Bonang.

Dalam pentas pewayangan, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa

Keilmuan

Sunan Bonang juga terkenal dalam hal ilmu kebathinannya. Ia mengembangkan ilmu (dzikir) yang berasal dari Rasullah SAW, kemudian dia kombinasi dengan kesimbangan pernapasan[butuh rujukan] yang disebut dengan rahasia Alif Lam Mim ( ا Ù„ Ù… ) yang artinya hanya Allah SWT yang tahu.

Sunan Bonang juga menciptakan gerakan-gerakan fisik atau jurus yang Dia ambil dari seni bentuk huruf Hijaiyyah yang berjumlah 28 huruf dimulai dari huruf Alif dan diakhiri huruf Ya'. Ia menciptakan Gerakan fisik dari nama dan simbol huruf hijayyah adalah dengan tujuan yang sangat mendalam dan penuh dengan makna, secara awam penulis artikan yaitu mengajak murid-muridnya untuk menghafal huruf-huruf hijaiyyah dan nantinya setelah mencapai tingkatnya diharuskan bisa baca dan memahami isi Al-Qur'an.

Penekanan keilmuan yang diciptakan Sunan Bonang adalah mengajak murid-muridnya untuk melakukan Sujud atau Salat dan dzikir. Hingga sekarang ilmu yang diciptakan oleh Sunan Bonang masih dilestarikan di Indonesia oleh generasinya dan diorganisasikan dengan nama Padepokan Ilmu Sujud Tenaga Dalam Silat Tauhid Indonesia.




6. Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 dengan nama Raden Said. Dia adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur. Nama lain Sunan Kalijaga antara lain LokajayaSyekh MalayaPangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman. Berdasarkan satu versi masyarakat Cirebon, nama Kalijaga berasal dari Desa Kalijaga di Cirebon. Pada saat Sunan Kalijaga berdiam di sana, dia sering berendam di sungai (kali), atau jaga kali.

Menurut cerita, Sebelum menjadi Walisongo, Raden Said adalah seorang perampok yang selalu mengambil hasil bumi di gudang penyimpanan Hasil Bumi di kerajaannya, merampok orang-orang yang kaya. Hasil curiannya, dan rampokanya itu akan ia bagikan kepada orang-orang yang miskin. Suatu hari, Saat Raden Said berada di hutan, ia melihat seseorang kakek tua yang bertongkat. Orang itu adalah Sunan Bonang. Karena tongkat itu dilihat seperti tongkat emas, ia merampas tongkat itu. Katanya, hasil rampokan itu akan ia bagikan kepada orang yang miskin. Tetapi, Sang Sunan Bonang tidak membenarkan cara itu. Ia menasihati Raden Said bahwa Allah S.W.T tidak akan menerima amal yang buruk. Lalu, Sunan Bonang menunjukan pohon aren emas dan mengatakan bila Raden Said ingin mendapatkan harta tanpa berusaha, maka ambillah buah aren emas yang ditunjukkan oleh Sunan Bonang. Karena itu, Raden Said ingin menjadi murid Sunan Bonang. RadeN Said lalu menyusul Sunan Bonang ke Sungai. Raden Said berkata bahwa ingin menjadi muridnya. Sunan Bonang lalu menyuruh Raden Said untuk bersemedi sambil menjaga tongkatnya yang ditancapkan ke tepi sungai. Raden Said tidak boleh beranjak dari tempat tersebut sebelum Sunan Bonang datang. Raden Said lalu melaksanakan perintah tersebut. Karena itu,ia menjadi tertidur dalam waktu lama. Karena lamanya ia tertidur, tanpa disadari akar dan rerumputan telah menutupi dirinya. Tiga tahun kemudian, Sunan Bonang datang dan membangunkan Raden Said. Karena ia telah menjaga tongkatnya yang ditanjapkan ke sungai, maka Raden Said diganti namanya menjadi Kalijaga. Kalijaga lalu diberi pakaian baru dan diberi pelajaran agama oleh Sunan Bonang. Kalijaga lalu melanjutkan dakwahnya dan dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor - mentornya, 
a. Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung "sufistik berbasis salaf" -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah. termasuk seni Silat MaRuyung dan kesufiannya.

b. Sunan Gunung jati. lewat mentor dan sekaligus sahabat yaitu Sunan Gunung Jati, beliau belajar juga berbagai ilmu termasuk keilmuan yang akhirnya sampai sekarang digunakan oleh MaRuyung.
Lewat mentor Sunan Bonang akhirnya Sunan Kalijaga sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil memengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Tidak mengherankan, ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Beberapa lagu suluk ciptaannya yang populer adalah Ilir-ilirdan Gundul-gundul Pacul. Dialah menggagas baju takwa, perayaan sekatenan, garebeg maulud, serta lakon carangan Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu ("Petruk Jadi Raja"). Lanskap pusat kota berupa kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini pula dikonsep oleh Sunan Kalijaga.
Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga; di antaranya adalah adipati PandanaranKartasuraKebumenBanyumas, serta Pajang.

7. Ki Ageng Selo

Ki Ageng Selo adalah santri Sunan Kalijaga, beliau mengaji berbagai ilmu kepada Sunan Kalijaga.
Baik ilmu agamanya tentunya juga belajar ilmu beladiri yang sangat dibutuhkan pada zamannya.

Nama asli Ki Ageng Ngabdurahman Sela menurut sebagian masyarakat adalah Bagus Sogom. Menurut naskah-naskah babad ia dipercaya sebagai keturunan langsung Brawijaya raja terakhir Majapahit.
Kisah hidup Ki Ageng Sela pada umumnya bersifat legenda menurut naskah-naskah babad, yang dipercaya sebagian masyarakat Jawa benar-benar terjadi.
Ki Ageng Sela disebutkan pernah mendaftar sebagai perwira di Kesultanan Demak. Ia berhasil membunuh seekor banteng sebagai persyaratan seleksi, namun ngeri melihat darah si banteng. Akibatnya, Sultan menolaknya masuk ketentaraan Demak. Ki Ageng Sela kemudian menyepi di desa Sela sebagai petani sekaligus guru spiritual.
Karna beliau termasuk orang pilihan sehingga banyak yang berguru kepadanya termasuk Mbah Soleh dan sebagainya. yang dimana Mbah Soleh sendiri yang akhirnya menurunkan ilmunya yang sampai pada MaRuyung saat ini.
Ia juga pernah menjadi guru Jaka Tingkir, pendiri Kesultanan Pajang. Ia kemudian mempersaudarakan Jaka Tingkir dengan cucu-cucunya, yaitu Ki Juru MartaniKi Ageng Pemanahan, dan Ki Panjawi.
Ki Ageng Sela juga pernah dikisahkan menangkap petir ketika sedang bertani. Petir itu kemudian berubah menjadi seorang kakek tua yang dipersembahkan sebagai tawanan pada Kesultanan Demak. Namun, kakek tua itu kemudian berhasil kabur dari penjara. Untuk mengenang kesaktian Ki Ageng Sela, pintu masuk Masjid Agung Demak kemudian disebut Lawang Bledheg (pintu petir), dengan dihiasi ukiran berupa ornamen tanaman berkepala binatang bergigi runcing, sebagai simbol petir yang pernah ditangkap Ki Ageng. Bahkan, sebagian masyarakat Jawa sampai saat ini apabila dikejutkan bunyi petir akan segera mengatakan bahwa dirinya adalah cucu Ki Ageng Sela, dengan harapan petir tidak akan menyambarnya.
Ki Ageng Sela juga dikaitkan dengan asal usul pusaka Mataram yang bernama Bende Kyai Bicak. Dikisahkan pada suatu hari Ki Ageng Sela menggelar pertunjukan wayang dengan dalang bernama Ki Bicak. Ki Ageng jatuh hati pada istri dalang yang kebetulan ikut membantu suaminya. Maka, Ki Ageng pun membunuh Ki Bicak untuk merebut Nyi Bicak. Akan tetapi, perhatian Ki Ageng kemudian beralih pada bende milik Ki Bicak. Ia tidak jadi menikahi Nyi Bicak dan memilih mengambil bende tersebut. Bende Ki Bicak kemudian menjadi warisan turun temurun keluarga Mataram. Roh Ki Bicak dipercaya menyatu dalam bende tersebut. Apabila hendak maju perang, pasukan Mataram biasanya lebih dulu menabuh bende Ki Bicak. Bila berbunyi nyaring pertanda pihak Mataram akan menang. Tapi bila tidak berbunyi pertanda musuh yang akan menang.
Selain pusaka, Ki Ageng Sela meninggalkan warisan berupa ajaran moral yang dianut keturunannya di Mataram. Ajaran tersebut berisi larangan-larangan yang harus dipatuhi apabila ingin mendapatkan keselamatan, yang kemudian ditulis para pujangga dalam bentuk syair macapat berjudul Pepali Ki Ageng SelaSyi'ir sholawat yang sampai sekarang sering kita dengar diberbagai Majlis keilmuan.

lirik syi'ir sholawat Pepali Ki Ageng Selo

Allahumma sholli 'ala sayyidina.
Muhammadin thibbil qulubi wadawaiha.
Wa'afiyatil abdani wa syifa'iha.
Wa nuuril abshoori wadliyaaiha.
Wa alaa alihi washohbihi wasallim.

pepali ki ageng, selo amberkahi
ojo gawe angkuh, ojo ladak lan ojo jahil
ojo ati serakah lan ojo celimut,
ojo buru aleman lan ojo ladak
wong ladak pan gelis mati, lan ojo ati ngiwo

niruho wong mulyo, habib lan ulomo
niyat hormat golek tsawab ujar berkah kang minulyo
ojo sampe modo, ora keno nyelo
luwih becik derek tindak lampah pinuji minulyo
tembung alus ati ati, lungguhe ojo sembrono

sopo nandur bagus, bakal panen ugo
seneng ayem bahagia, anak putu sak kluwargo
lamun dadi penggede, printah anak buahe
ojo nganti keras kaku, sak seneng karepe dewe
dadiyo siro pelindung, printah kelawan kiro kiro

eling lan waspodo, dawuh kang utomo
senengno jiwamu lan atimu, ojo salah tompo
pitutur kang luhur, printahe agomo
ojo simpang siur, tindak ngawur ndadekno sengsoro
dadiyo wong agung kang minulyo, tumindak sempurno

nindaki kewajiban, kanti dasar iman
akhlaq bagus tumus, sabar alus noto ati mapan
ta'at lan ngabekti, perintahe gusti
nindakno ngibadah, netepi printah amal kang pinuji
nyadong ridlo rahmat lan syafa'at saking kanjeng nabi.

8. Syaikh Muhamad Nur Soleh

Mbah Soleh atau nama lengkapnya Syeh Muhammad Soleh bin Abdurrahman merupakan ulama yang gemar mengaji kepada para ulama sebelumnya. namun dalam hal ilmu khusus / tertentu ada yang diperoleh  dari Ki Ageng Selo. sehingga beliau mewarisi keilmuan dari Ki Ageng Selo, beliau aktifis perjuangan melawan penjajah di tanah air. Beliau sangat linuih olah kanuragan, sehingga beliau semasa hidup menjadi pengawal pribadi Maulana Hasanudin bin Sunan Gunung Jati. beliau bersama putra Sunan Gunung Jati menyebarkan agama di Banten. Beliau berjuang dan berdakwah di daerah Gunung Santri Desa Bojonegoro Kec Bojonegoro Kab Serang. beliau mewariskan ilmunya kepada santrinya yang sampai sekarang diamalkan amalan khusus oleh MaRuyung. di akhir hayatnya beliau akhirnya dimakamkan di tempat syiar agamanya yaitu Banten

9. Sultan Hasanudin

Sultan Maulana Hasanuddin
Pendiri Kesultanan Banten
Berkuasa1552–1570
PendahuluJabatan Baru
PenerusMaulana Yusuf
Kelahiran1478
Kematian1570 (umur 91–92)
Kesultanan Banten
Pemakaman
KeturunanMaulana Yusuf dari Banten
Pangeran Sunyararas
WangsaAl Bantani
AyahSunan Gunung Jati
IbuNyai Ratu Kawunganten
AgamaIslam Sunni

Sultan Maulana Hasanuddin adalah Pendiri Kesultanan Banten. Ia memiliki nama lain Pangeran Sabakingking dan memerintah di Banten dalam rentang waktu 1552 – 1570 M.

Masa Pemerintahan

Maulana Hasanuddin merupakan pendiri sekaligus sultan pertama dari Kesultanan Banten. Ia mendirikan Kesultanan Banten pada tahun 1527 setelah merebut wilayah Banten Girang dari Pucuk Umun. Banten Girang kemudian menjadi wilayah pertama dari Kesultanan Banten.[1]

Di bawah pemerintahannya, Kesultanan Banten mengalami perkembangan pesat di berbagai bidang. Kesultanan Banten adalah kerajaan maritim yang mengandalkan perdagangan untuk menopang perekonomian kerajaan. Untuk memudahkan hubungan dagang dengan pesisir Sumatera melalui Selat Sunda, pusat pemerintahannya kemudian dipindahkan dari pedalaman Banten Girang ke pesisir.[butuh rujukan]

Di kawasan teluk Banten, Maulana Hasanuddin membangun tiga institusi penting sebagai motor perubahan kerajaannya. Tiga institusi tersebut adalah masjid (sebagai basis kegiatan sosial keagamaan), Kraton Surosowan (pusat pemerintahan), dan pelabuhan (sentra ekonomi).[butuh rujukan]

Di tangan Sultan Maulana Hasanuddin, Banten dikenal sebagai bandar besar yang menjadi persinggahan utama dan penghubung antara pedagang dari Arab, Parsi, India dan Tiongkok dengan negara-negara di Nusantara.[butuh rujukan] Selain itu, Kesultanan Banten juga menguasai Lampung yang banyak menghasilkan rempah-rempah.[2] Di era Sultan Maulana Hasanuddin pula, Banten dapat melepaskan diri dari Demak pada 1568 M.[butuh rujukan] Sultan Maulana Hasanuddin wafat pada 1570 dan dimakamkan di Masjid Agung Banten.[butuh rujukan] Ia juga dikenal sebagai Pangeran Surosowan karena telah mendirikan Keraton Surosowan.[3]

 

10. Syaikh Nur Jalin

Kisah 4 Makam Keramat Ulama Kepercayaan Pangeran Diponegoro di Cilacap

Pemerintah Kolonial Belanda khawatir, sosok dan pemikirannya akan menggerakkan perlawanan baru ketika Pangeran Diponegoro telah ditangkap

Nama Kiai Nur Saleh memang tak tercatat dalam sejarah perang Pangeran Diponegoro. Akan tetapi, diyakini, dia adalah salah satu orang kepercayaan di lingkar dalam sang pangeran dalam masa perang Jawa.

Keyakinan itu beralasan lantaran dalam keluarga inti keturunannya, Kiai Nur Saleh memiliki silsilah hingga kerajaan Mataram, serupa dengan Pangeran Diponegoro. Tentu tak mudah untuk menjadi orang kepercayaan di masa gawat perang Jawa.

Hanya orang-orang istimewa yang diperbolehkan berada begitu dekat dengan Pangeran Diponegoro. Ia dikenal sebagai seorang ulama linuwih. Ilmu agamanya mendalam, disertai dengan kemampuan karomahnya yang tinggi.

Perjalanan hidupnya diwarnai dengan kisah keramat, yang bagi orang biasa, sulit dinalar. Terlebih pada masa kini, di abad modern. Tetapi, itu lah keistimewaan ulama.

Seorang anggota keluarga yang dituakan namun enggan disebut namanya bercerita, usai perang Jawa, Kiai Nur Saleh turut dibuang Sulawesi. Tentu pemerintah Kolonial Belanda khawatir, sosok dan pemikirannya akan menggerakkan perlawanan baru ketika Pangeran Diponegoro telah ditangkap dengan cara licik.

Kala itu, ia ditangkap dan lantas dibui di Batavia. Tak berapa lama usai dibui, Kiai Nur Saleh diberangkatkan ke Sulawesi, ke tanah buangan. Kiai Nur Saleh lantas meminta izin kepada penguasa kala itu untuk terlebih dahulu menemui seseorang di sebuah wilayah perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Barat.

Namun, pejabat kolonial tak mengizinkan. Mereka takut, salah satu ulama kepercayaan Pangeran Diponegoro itu melarikan diri. Maka, diangkutlah Kiai Nur Saleh dan sejumlah tahanan lainnya berlayar dengan kapal dari Pelabuhan Sunda Kelapa menyusuri Laut Jawa.




Diselamatkan oleh Nelayan Gowa

Namun keanehan terjadi, sesampai di perairan utara Semarang, kapal itu justru berlayar mundur tanpa disadari nahkoda. Bukannya tiba di Sulawesi, kapal itu justru kembali ke Sunda Kelapa.

Melihat karomah atau keistimewaan Kiai Nur Saleh, akhirnya pemerintah Kolonial Belanda mengizinkan ulama ini untuk menemui seseorang yang dimaksud. Kala itu, Kiai Nur Saleh juga berjanji akan kembali ke Batavia, setelah menyelesaikan hajatnya. Usai selesai hajatnya, Kiai ini dibuang ke Sulawesi.

Sepanjang perjalanan dia dimasukkan ke kerangkeng besi dan ternyata dibuang di perairan Gowa. Beruntung, dia diselamatkan oleh nelayan Gowa. Bertahun-tahun kemudian, Kiai Nur Saleh kembali ke Jawa, berikut dengan kerangkengnya yang kini konon masih tersimpan di Banten.

Kisah penyelamatan Kiai Nur Saleh ini rupanya didengar oleh para pembesar kerajaan. Maka, selama beberapa tahun, Kiai Nur Saleh berada di Sulawesi. Tak ada riwayat yang menceritakan perjalanan kiai ini di Sulawesi. Namun, beberapa tahun kemudian, Kiai Nur Saleh diantar kembali ke tanah Jawa, berikut kerangkengnya. Bahkan, diyakini kerangkeng itu pun masih ada hingga saat ini, di Banten.

Kiai Nur Saleh lantas kembali ke Dayeuhluhur, untuk mengajarkan ilmu agama. Namun, ia harus pintar bersembunyi. Dia khawatir, keberadaannya diketahui oleh pemerintah kolonial yang meyakini bahwa dia telah meninggal dunia di perairan Sulawesi.

Akhirnya, Kiai Nur Saleh punya santri dari berbagai wilayah. Mereka semua takzim kepada kiai yang begitu mendalam ilmu agama dan dianggap keramat. Bahkan, kala itu masyarakat meyakini ulama ini bisa berada di dua tempat atau lebih dalam waktu bersamaan. Pasalnya, Kiai Nur Saleh bisa mengajar di tempat berbeda dalam satu waktu. “Seperti ada kembarannya,” ucap pria yang tinggal di Cimanggu, Cilacap ini.

Bahkan, sebagian masyarakat awam meyakini, Kiai Nur Saleh dimakamkan di empat tempat berbeda. Makam tersebut pun dikeramatkan hingga saat ini. Yakni, di sebuah tempat di Kecamatan Cipari, Majenang, Dayeuhluhur, dan Pesahangan, Cimanggu.

“Karena karomahnya diyakini kalau dimakamkan di empat tempat berbeda,” ujarnya.

Soal ini, dia menjelaskan tidak benar bahwa Kiai Nur Saleh dimakamkan di empat tempat berbeda. Masa itu, tak aneh jika di beberapa tempat Kiai Nur Saleh punya semacam padepokan atau pondok.

Di tempat itu juga dibangun rumah peristirahatan atau petilasan. Saking hormatnya kepada sang guru, ketika santri mengaji, mereka akan datang ke pondok, meski Kiai Nur Saleh sedang berada di tempat lain.

Lantaran sudah menjadi kebiasaan, hingga akhir hayatnya, santri tetap mengaji di petilasan, seolah-seolah sang kiai alim masih berada di tempat tersebut. Belakangan ada salah kaprah pengertian masyarakat, antara petilasan dengan makam.

“Makam itu kan ada jenazahnya. Kalau petilasan itu hanya tempat buat beristirahat. Tapi karena orang-orang rindu kepada gurunya, mereka berdoa di situ dan malah pengertian umum itu adalah makam,” ucap tokoh agama yang sudah sepuh ini.

Lazimnya buron pemerintah kolonial, Kiai Nur Saleh selalu tinggal berpindah-pindah. Polanya mirip dengan yang diterapkan para kstaria perang Jawa yang menggunakan sistem perang gerilya. Salah satunya, Panglima Pasukan Pangerang Diponegoro, Kiai Ngabehi Singadipa, di Banyumas.

Keluarga sendiri meyakini bahwa jenazah Kiai Nur Saleh disemayamkan di sebuah makam di Banten. Dan itu, hanya diketahui oleh anggota keluarga. Kini, keturunan Kiai Nur Saleh masih meneruskan perjuangan pendidikan, baik ilmu agama maupun sekolah formal.

Keturunannya mendirikan yayasan untuk menaungi pesantren dan sekolah. Nama yayasannya adalah Nur Jalin. Ada pula keturunannya yang kini menjadi pimpinan di Yayasan Elbayan, Majenang.



11. Syaikh Nur Kandan

Mbah Nur Kandar adalah seorang ulama besar dijamannya, beliau dikenal sebagai penasehat Pangeran Diponegoro. beliau menimba ilmu kepada Mbah Soleh yang aktif dalam perjuangan membela tanah air, beliau sangat disegani masyarakat karna keilmuannya dan sebagainya. Beliau dimakamkan di DEsa Pesahangan Kec Cimanggu Kab Cilacap Prop Jawa Tengah. beliau mewariskan ilmunya kepada santrinya yang sampai sekarang diamalkan oleh MaRuyung.

12. Mbah Nur Zaen

Mbah Nur Zaen adalah putra bungsu Mbah Nur Kandar yang memang terkenal mempunyai ilmu yang sangat mumpuni, baik ilmu Agamanya dan ilmu hikmah juga ilmu kanuragannya yang tidak diragukan. beliau mewariskan ilmunya kepada santrinya yang sampai sekarang diamalkan oleh MaRuyung. Mbah Nur Zaen mewarisi keilmuannya dari ayahandanya yaitu Mbah Nur Kandar yang luar biasa kekaromahannya. Makam beliau berada di Desa Pesahangan Kec Cimanggu Kab Cilacap Prop Jawa Tengah.

13. Syaikh Abdullah Sayuti

Syaikh Abdullah Sayuti merupakan putra dari Mbah Nur Zaen yang dikenal linuwih juga seperti ayahandanya, beliau mewarisi keilmuan ayahandanya. beliau mewariskan ilmunya kepada santrinya yang sampai sekarang diamalkan oleh MaRuyung. Beliau dimakamkan di Pemakaman Umum Desa Pesahangan Kec Cimanggu Kab Cilacap. Meskipun belum mewarisi keilmuan ayahnya secara keseluruhan tetapi beliau sangat ditokohkan di masyarakat lingkungannya. beliau mendirikan pendidikan keagamaan yang diimbangi dengan olahraga fisik kanuragan. di Desa Pesahangan ini ada pesantren bernama PP El Muslim, yang diasuh oleh anak bontot Syaikh Abdullah Sayuti bernama KH Muslim. beliau juga sudah meninggal dan dimakamkan di dekat makam Syaikh Abdullah sayuti. 

14. KH. Muslim

Beliau adalah putra bontot dari Syaikh Abdulah Sayuti yang ada di Pesahangan, disana melanjutkan kegiatan agama yang sudah ada maka diresmikan dengan membuat wadah kegiatan yaitu, Pondok Pesantren El Muslim. dan masih berjalan sampai sekarang.

15. KH. Achmad Mukto

KH. Achmad Mukto merupakan cucu dari Syaikh Abdullah Sayuti. KH Achmad Mukto mewarisi keilmuan dari kakeknya yaitu Syaikh Abdullah Sayuti. KH Achmad Mukto berjasa besar membesarkan MaRuyung. KH Achmad Mukto dimakamkan di pemakaman umum Watumas, semasa hidupnya KH Achmad Mukto membawa MaRuyung dari Kab Cilacap masuk ke Kab Banyumas, lewat beliaulah Perguruan MaRuyung maju pesat dan berkembang luar biasa, setiap kecamatan di Kab Banyumas berdiri koordinator, sampai keluar Kab Banyumas.

KH Achmad Mukto sangat optimis bahwa santri MaRuyung akan berkembang dengan baik dimasa depannya.


16. K. Nur Akhyadi & Arif Rafiudin

K. Nur Achyadi adalah putra sulung KH Achmad Mukto, beliau merupakan pimpinan tertinggi dalam  Keluarga Besar MaRuyung dimana meneruskan tampuk kepemimpinan dari ayahandanya. K Nur Achyadi mewarisi keilmuan dari ayahandanya KH Achmad Mukto dan dari Syaikh Abdullah Sayuti (kakek buyutnya). beliau bertempat di WATUMAS Desa Purwanegara Kec Purwokerto Utara Kab Banyumas.
Beliau menempati tempat ayahandanya sebagai Guru Besar Pusat MaRuyung.
ditangan beliaulah sekarang MaRuyung dipimpin dan mulai diadakan berbagai progres yang merujuk pada tujuan awal ke MaRuyung an, yaitu bagaimana untuk lebih mendekatkan diri pada Alloh SWT bagi semua Keluarga Besar MaRuyung


Arif Rafiudin, S.Pd.I adalah menantu dari  KH Achmad Mukto, beliau bertempat tinggal di Desa Pandansari Kec Ajibarang Kab Banyumas. beliau berguru dan mewarisi ilmu dari KH Achmad Mukto ayah mertuanya. ditangan beliau MaRuyung mempunyai para pendekar pendekar handal dan luar biasa.

17. Muh Cipto Waluyo

Muh Cipto Waluyo adalah santri MaRuyung dari lereng Gunung Putri, dia berguru keilmuan pada para guru besar pewaris keilmuan MaRuyung yang sangat disegani :
* KH Achmad Mukto
* K Nur Achyadi & Arif Rafiudin
Muh Cipto Waluyo tinggal di Desa Jingkang Kec Ajibarang Kab Banyumas dan sampai sekarang masih aktif olah fisik maupun non fisik Silat MaRuyung. dengan berbagai referensi sumber keilmuan lainnya, Muh Cipto Waluyo mendirikan Pondok Pesantren Basik Silat bernama AL MUHAJIRIN - Kalisari Desa Jingkang.

Demikian mudah mudahan bisa mendatangkan manfaat yang baik, karna ridlo Alloh SWT dan Syafaat Nabi Muhammad SAW..... Amiin ya robal 'alamin

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Sanad Keilmuan MaRuyung - Dalam cerita dan legendha"

Posting Komentar